Kenali Ancaman, Kurangi Risiko Bencana, Tingkatkan Kapasitas Masyarakatnya
Senin, 06 November 2017

Tidak ada masyarakat yang dapat benar-benar terbebas dari bahaya ancaman bencana alamiah maupun bahaya akibat perilaku manusia. Barangkali lebih tepat untuk mengasumsikan ketahanan bencana atau masyarakat tangguh bencana sebagai “masyarakat teraman yang paling mungkin kita desain dan dibangun dalam konteks pengurangan risiko bencana”, dengan mengenali potensi ancaman bencana yang ada disekitarnya, meminimalisir kerentanannya melalui peningkatan kemampuan masyarakat dalam pengurangan risiko bencana
Rencana Penanggulangan Bencana (RPB), Rencana Aksi Komunitas (RAK) dan Rencana Evakuasi ditingkat komunitas merupakan rencana yang nantinya diharapkan tidak terpisah dari dokumen perencanaan pembangunan yaitu Rencana Pembangunan Jangka Menengah Desa (RPJM Desa) dan Rencana Kerja Pemerintah Desa (RKP Desa). Agar supaya integrasi RPB/RAK ke dalam RPJMDes/RKPDes maka salah satu strategi yang dapat dilakukan adalah dengan selalu mengadakan pendekatan secara partsisipatif .
 
Kegiatan Pembentukan Desa Tangguh Bencana di Kabupaten Cianjur dengan lokus kegiatan di Desa Cidadap Kecamatan Campaka yang dilaksanakan pada bulan Oktober – Desember 2017 dengan maksud memberdayakan masyarakat untuk mengenal potensi risiko bencana (Ancaman, Kerentanan dan Kapasitas) guna mengurangi resiko dan merespon bencana jika terjadi potensi-potensi bencana tujuaan kegiatan adalah; Meningkatkan kapasitas kemampuan aparatur pemerintah dan masyarakat dalam pengurangan resiko bencana dan merespon bencana dan; Meningkatkan koordinasi pihak terkait [pemerintah – masyarakat – lembaga usaha] dalam penanggulangan bencana secara cepat, tepat, efektif, efisien, terpadu dan menyeluruh pada tahap prabencana, saat bencana dan paska bencana.
 
Materi yang disajikan oleh fasilitator adalah Pengenalan Program dan Profil Desa; Penyusunan Kajian dan Peta Risiko Bencana; Penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana dan Rencana Aksi Komunitas untuk Pengurangan Risiko Bencana; Penguatan Forum Desa untuk PRB dan Pembangunan; Pengembangan Sistem Peringatan Dini di Masyarakat; Penyusunan Rencana Evakuasi dan Rencana Kontijenti; Integrasi RPB dan RAK ke dalam Perencanaan Pembangunan daerah; Sosialisasi Peta risiko, rencana kontijenti, jalur evakuasi, kepada masyarakat umum; Prakarsa kegiatan Pengurangan Risiko bencana dan Pembentukan Tim serta Pengembangan Kapasitas Relawan, Metode Kegiatan dilaksankan dengan metode tatap muka, Participatory Rural Apraisal (PRA), Focus Group Discussion (FGD) serta observasi lapang (Transect). Dengan target hasil yang diharapkan: Pengarusutamaan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) ke dalam dokumen perencanaan pembangunan yang ada di Desa (RPJMDes, RKPDes); Adanya perencanaan partisipatif dan Penguatan kapasitas kelembagaan di bidang penanggulangan bencana; Masyarakat lebih memahami arti penting kajian dan peta risiko sebagai dasar pembuatan perencanaan pembangunan; Adanya perencanaan yang partisipatif mulai dari tingkat bawah (Bottom up) ke atas; Tersosialisasikannya pengurangan risiko bencana; Memberi peluang partisipasi dari berbagai elemen yang ada di masyarakat; Peta risiko bencana tingkat desa dan Prioritas program diarahkan pada daerah yang rawan terhadap bencana berdasarkan Indeks Rawan/Risiko Bencana yang telah disusun secara partisipatif oleh masyarakat.(dham)